RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Sikap Positif Dalam Berdoa
 

Doa sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Kita mendambakan suatu tingkat kedekatan dengan Tuhan sehingga ada ketenangan, kedamaian dan kesucian di dalam hati kita. Kekuatan doa selalu menjadi andalan bila kita membutuhkan rahmat Tuhan untuk mengatasi berbagai persoalan yang kita hadapi. Keampuhan doa menjamin keberhasilan kita dalam usaha dan perjuangan mewujudkan prestasi dan keuntungan. Ini semua adalah sikap positif terhadap doa.
Tetapi banyak dari kita masih menyikapi doa secara negatif. Hal ini disebabkan oleh iman yang belum dewasa. Doa hanya sebagai alat yang penting pada saat diperlukan. Doa hanya dilakukan pada saat mood sedang baik. Doa hanya dilakukan secara mekanistis karena kurangnya pengetahuan mengenai doa itu sendiri.


Tanda perlindungan Tuhan

Seorang anak terus menuntut orang tuanya untuk dihadiahi sepeda baru sebagai janji atas kenaikan kelasnya. Kedua orang tua belum menunjukkan tanda apa-apa untuk memenuhi janji mereka. Anak itu terus-menerus berdoa supaya Tuhan orang tuanya bisa berlembut hati. Karena tidak ada tanggapan apa-apa, ia mulai mogok berdoa dan selalu menolak untuk menghadiri Misa pada hari Minggu. Setelah tiga bulan berlalu akhirnya ia memiliki sepeda baru impiannya. Saat itu proyek pemerintah daerah baru selesai mengerjakan secara permanen jalan-jalan di desa yang hampir seluruh lahannya penuh dengan batu karang yang selalu membahayakan para pejalan kaki atau yang berkendaraan.

Masalah yang selalu dihadapi banyak dari kita ialah jawaban doa-doa kita yang tidak cepat datang. Iman yang belum dewasa membuat orang selalu ingin supaya jawaban doa itu instant. Doa harus pertama-tama menunjukkan bukti konkret, baru orang bisa percaya. Kalau bukti itu belum ada sulit untuk terwujudnya iman, lalu orang mulai meninggalkan doa dan penghayatan imannya. Padahal doa itu bukan suatu tindakan pengetahuan yang mesti memerlukan bukti dahulu setelah itu baru percaya. Tetapi sebagai suatu tindakan iman yang sangat membutuhkan keyakinan dan pengharapan bahwa Tuhan itu murah hati kepada siapa saja yang bergantung kepadaNya.

Tuhan itu maha tahu dan murah hati sehingga Ia berkenan mengabulkan doa-doa kita pada saat dan suasana yang tepat. Kita perlu terus-menerus mendewasakan diri dengan kesabaran dalam pengharapan, supaya bila jawaban dari Tuhan itu datang kita menjadi lebih siap untuk menerima dan menggunakannya. Kita perlu juga menguatkan keyakinan bahwa belum terjawabnya doa-doa kita itu merupakan tanda perlindungan dan pemeliharaan Tuhan atas kita. Jangan sampai kita jatuh dalam bahaya, menjadi angkuh atau tidak peka lagi pada keadaan sekitar ketika semua permintaan kita dijawab sesuai dengan keinginan kita.

Pilihan

Pernah ada seorang mengungkapkan bahwa ia bingung dengan begitu banyak rumusan doa yang ditawarkan padanya. Setiap kelompok punya cara tersendiri berikut rumusan doanya. Lembaran flyer atau buku-buku penuntun atau interaksi SMS disebarkan kepada siapa saja. Tawarannya kadang menjadi agak ambisius, misalnya dengan memberikan bukti terjadinya mujisat-mujisat dan disertai “ancaman” menghadapi resiko kalau tidak menerima atau menjalankan intruksinya.

Kiranya ada hal mendasar harus diperhatikan. Pertama-tama doa merupakan sesuatu yang sangat pribadi karena yang diutamakan ialah pertemuan atau kontak pribadi dengan Tuhan. Maka setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan atas jenis dan cara ia berdoa. Pilihan itu cocok dengan kehendak, perasaan dan pemahaman masing-masing orang. Misalnya, kalau seseorang sangat terbantu dengan satu jenis litani orang kudus dan beberapa doa tambahan, ia tetap saja dengan doa jenis ini dan tidak usah kuatir kalau doanya itu nampaknya berbeda dengan jenis doa lain yang ditawarkan kepadanya. Tidak ada kewajiban untuk mengikuti banyak atau semua tawaran. Tidak tertarik atau cocok dengan tawaran-tawaran doa itu adalah perasaan manusia yang normal.

Tetapi ada doa yang menjadi kewajiban bagi kita. Doa itu bukan lagi soal memilih atau tidak memilih. Sebab kalau tidak memilih orang akan selalu dihantui rasa bersalah. Saya ingin menyebutkan doa “Bapa Kami” dan perayaan “Ekaristi”. Doa Bapa Kami bukan doa yang paling pokok atau yang tertinggi dari semua doa kita. Doa Yesus Kristus ini adalah model yang terbaik bagi doa-doa kita. Sedangkan doa yang paling pokok dan tertinggi adalah Ekaristi atau Kurban Misa Kudus. Mengapa? Karena kita tahu bahwa berdoa adalah berbicara dengan Allah, mengangkat jiwa kita kepada Allah, dan semua ini terungkap secara penuh pada waktu kita merayakan Ekaristi dalam keseluruhannya.
Dengan bersama-sama mempersembahkan Kurban Misa kita berdoa kepada Allah, dan dengan berdoa kita mempersembahkan kurban kepada Allah. Di dalam Kitab Suci dikatakan: “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya” (Ibrani 13,15); “Mempersembahkan kurban syukur kepada Allah” (Mazmur 50,14); “Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku” (Mazmur 50,23).

Perhatian

Banyak orang mengalami doa-doa mereka tidak mantap dan berkesan. Hal ini disebabkan oleh suasana pribadi dan lingkungan sekitarnya yang tidak mendukung. Satu syarat penting untuk membuat doa-doa kita mantap dan berkesan ialah perhatian. Dalam kaitan ini ada tiga bentuk perhatian yang perlu kita perhatikan yaitu perhatian superfisial, literal dan spiritual.

Perhatian yang superfisial atau material memberi penekanan pada kata-kata atau rumusan verbal yang digunakan dalam berdoa. Yang diperlukan ialah pengucapan kata-kata doa secara menyeluruh dan benar. Kata-kata itu jelas mengungkap pikiran dan perasaan pendoa kepada Tuhan. Orang yang berdoa dalam bahasa atau kata-kata yang tidak dimengerti adalah contoh tidak adanya perhatian material.
Perhatian literal atau intelektual menekankan arti kata-kata doa yang diucapkan. Yang diperlukan ialah kata-kata yang masuk akal, mengungkapkan isi doa itu dan yang membuat pikiran dan hati dapat menyelami maknanya yang menggambarkan realitas ilahi. Berdoa bertele-tele dengan kata-kata yang kacau-balau dan tidak mengandung makna apa-apa dan mungkin membawa kebingungan atau penyesatan adalah contoh tidak adanya perhatian literer.

Perhatian spiritual atau mistik adalah curahan perhatian kepada Allah dan segala sesuatu yang terkait denganNya. Yang terkait dengan Allah itu seperti kerahimanNya, kebaikanNya, kemahakuasaanNya dan sengsara Kristus. Orang yang berdoa tetapi tidak ada kesadaran dan keyakinan akan kehadiran Allah penuh kasih adalah contoh tidak adanya perhatian spiritual.

Tetapi dengan suatu perhatian material sudah cukup untuk membentuk sebuah doa. Alasannya ialah adanya intensi dari pendoa dan intensi itu ditujukan kepada Allah. Meskipun sebagai perhatian superfisial orang tetap dianggap berbicara dengan Tuhan dan memohon dengan cara yang manusiawi. Demikian juga perhatian pada kata yang diucapkan dan maknanya, meskipun penting untuk membentuk sebuah doa, tetapi bukan sebagai faktor yang esensial. Karena yang diutamakan sesungguhnya ialah pribadi yang menjadi lawan bicara di dalam doa. Perhatian akan kehadiran ilahi inilah yang membentuk doa sesungguhnya.

Sering terjadi bahwa kesadaran akan kehadiran Tuhan itu begitu kuat, tanpa dengan rumusan kata-kata doa dan itu sudah menjadi satu doa yang baik dalam keheningan dan kedamaian. Tetapi jika tidak ada kesadaran akan kehadiran Tuhan, doa hanya menjadi suatu ritual yang mekanik. Terlalu banyak perhatian pada makna kata-kata doa dapat mengurangi perhatian akan kehadiran Allah. (Peter P. Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org