RENUNGAN MINGGUAN
Renungan Mingguan | Bacaan Harian
 
Servant Leader
 
Baik dalam skala internasional maupun nasional, kita selalu menyaksikan dan berpastisipasi dalam pemilihan pemimpin negara. Pemilu di Indonesia merupakan salah satu contohnya. Dengan iklim keterbukaan yang lebih terjamin dan demokrasi dalam bidang sosial-politik yang semakin berkembang, orang juga semakin dewasa di dalam hidup sosial dan politiknya. Paling tidak, penghayatan hak dan kewajibannya menjadi suatu ungkapan asasi sebagai manusia yang bermartabat di dalam kehidupan bersama.

Dalam kaitan dengan ini, kita tidak bisa puas kalau kita tidak masuk dalam alam perbincangan tentang kepemimpinan. Bagaimanapun, kepemimpinan itu sendiri lahir dari suatu proses penghayatan hidup sosial-politik baik yang berasaskan demokrasi maupun yang tidak.

Kita orang Katolik dapat memahami dan berbicara tentang kepemimpinan baik itu di dalam Gereja maupun di luar Gereja , yaitu di dalam masyarakat, bangsa dan dunia kerja. Semuanya punya pengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan kita sebagai manusia. Terlepas dari aspek-aspek khas yang membedakan masing-masing jenis kepemimpinan itu, kita bisa sepakat bahwa aspek-aspek umum yang dasar sepantasnya ada dalam diri seorang pemimpin. Salah satu dari aspek umum itu ialah servant-leader (terjemahan bebasnya boleh menjadi abdi-pemimpin).
Adalah seorang penulis esei Amerika, Robert K. Greenleaf, yang mulai mengembangkan ide servant-leadership di dalam bukunya The Servant as Leader (1970). Banyak tulisan Greenleaf berikutnya memang sangat berpengaruh hingga kini terutama di dalam managemen organisasi dan institusi kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin yang benar adalah yang dipilih oleh para pengikut dan pendukungnya. Dia dipilih karena memiliki kualitas yang sangat diperlukan sebagai seorang ‘abdi-pemimpin’.

Lalu, apakah servant-leadership itu? Dalam semua karya Greenleaf, berbagai pemahaman dan renungan yang mengikutinya rupanya sampai pada pendapat yang memaknai servant-leadership sebagai suatu falsafah praktis yang membantu pembinaan orang yang memilih mendahulukan tanggung jawab melayani, dan kemudian tanggung jawab memimpin sebagai satu cara untuk meningkatkan pelayanan kepada setiap manusia maupun kelompok manusia di dalam masyarakat. Orang yang menjadi abdi-pemimpin tidak mesti menduduki jabatan formal. Servant-leadership membangun kolaborasi, kepercayaan, kebijaksanaan, sikap mendengar, kekuasaan yang punya legitimasi etis dan pemberdayaan manusia.

Pemimpin yang disebut servant-leader boleh dibilang pemimpin yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita, baik itu di dalam Gereja maupun di luar Gereja. Saya ingin mendasari pernyataan ini dengan satu keyakinan prinsipil bahwa seorang ‘abdi-pemimpin’ sepantasnya pertama-tama sebagai seorang pribadi manusia yang baik dan seorang yang beriman.
Sebelum seseorang menjadi pemimpin, tentu saja ada keyakinan sendiri bahwa dia adalah seorang manusia yang baik. Keyakinan yang obyektif juga pantas sekali diperhitungkan. Pribadi manusia yang merupakan citra Allah itu, di dalam perjalanan hidup, melalui proses pembinaan kemanusiaan (human formation) sehingga terbentuklah satu pribadi yang secara jasmani, emosional, afektif dan sosial matang. Ukuran “yang baik” ini menunjuk pada apa yang biasa disebut kedewasaan, atau di dalam psikologi disebut individuasi, yang di dalam spiritualitas disebut perfection.

Pribadi manusia yang baik sangat perlu dimahkotai dengan iman. Faith built on nature. Demikianlah, percaya kepada Tuhan dan menjadi orang beriman yang baik dan benar baru dapat terwujud kalau pribadi manusia pada dasarnya baik. Selama 30 tahun Yesus melalui proses pematangan diri sebagai manusia, lalu saatnya tepat untuk mengungkapkan imanNya kepada Bapa dengan memaklumkan, “Roh Tuhan ada di atasKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku; untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin ...” (Lk 4, 18).

Seorang servant-leader itu memang personality-nya tidak diragukan karena dia memang tahu diri dengan jujur dan pasti bahwa ia orang yang baik dan benar. Orang-orang di sekitarnya juga tidak meragukan kredibilitas kepribadiannya. Seorang servant-leader itu juga mempuyai Tuhan yang dia percayai, sehingga Tuhan yang merupakan kebaikan tertinggi menjadi model utamanya untuk berkarya sebagai pemimpin. Pelajaran dari Yesus tentang orang Samaria yang baik hati (Lk 10, 25-37); Gembala yang baik (Yoh 10, 1-11); dan pembasuhan kaki (Yoh 13, 1-20) merupakan contoh yang paling jelas bahwa sang Guru dan Kepala itu adalah seorang abdi sejati.

Greenleaf, saya dan Anda bisa merasa yakin bahwa pemimpin yang benar adalah yang dipilih oleh orang-orang yang mengenalnya sebagai pribadi yang pantas untuk memimpin. Orang itu sendiri tentu saja jujur dan sadar bahwa hal itu merupakan ungkapan kepercayaan dan respek. Pilihan ini diukur pertama-tama dari pengalaman nyata bahwa yang bersangkutan kredibel dalam melayani. Dia sesungguhnya ialah orang biasa seperti saya dan Anda yang semangat pelayanannya adalah ekspresi kepribadiannya. Karena itulah dia orang yang pantas ditunjuk dan dipercayai sebagai pemimpin.
Jadi seorang servant-leader adalah pertama-tama seorang abdi atau pelayan, bahwa ada kehendak dan pilihan alamiah di dalam dirinya untuk melayani. Dia mendahulukan pelayanan. Setelah itu baru timbul satu kesadaran yang mendorong orang itu untuk mempimpin. Hal ini sangat berbeda dengan orang yang mendahulukan sikap memimpin, mungkin karena didorong oleh maksud menggunakan kekuasaan untuk memenuhi segala bentuk keinginan pribadi atau kelompok. Kalau demikian maka pilihan untuk melayani menjadi yang kedua untuk dilakukan, setelah kepemimpinan sudah dibentuk. Leader-first dan servant-first merupakan dua jenis kepemimpinan sangat bertentangan. Keduanya meruapakan bagian dari kodrat manusia.

Perbedaannya justru terungkap dalam penghayatan dari pribadi yang pertama-tama ialah seorang abdi. Prioritas pertamanya ialah supaya orang lain dapat dilayani. Ukurannya berupa apakah orang yang dilayani itu bertumbuh sebagai manusia yang wajar; apakah mereka yang dilayani menjadi lebih sehat jasmani dan rohani, menjadi bijaksana, bebas, mandiri dan pada akhirnya dapat juga membentuk diri mereka menjadi abdi seperti pemimpin mereka (Peter P. Tukan, SDB)

 
Download:
Edisi 2003 (825 KB)
Edisi 2004 (796 KB)
Edisi 2005-2006 (355 KB)
Edisi 2007-2008 (639 KB)
 
       
   

Jl. Taman Sunter Indah Blok A3 / 13-21
Sunter Jaya Jakarta 14350
t. 021.6530.0109 f. 021..6530.0112
info@st-yohanesbosco.org